1. PENGANTAR
Sebelum bisa menggunakan komputer untuk mendukung kegiatan belajar, guru peserta program BERMUTU perlu terlebih dahulu mengenal komputer beserta komponen-komponen atau bagian-bagian yang dapat dihubungkan dengannya. Pengetahuan ini penting agar guru semakin mengenal perangkat utama yang akan digunakan dan berbagai perangkat tambahan yang perlu dan dapat dipasangkan pada komputer.
Pada kegiatan awal ini, guru hanya perlu mengidentifikasi komputer yang akan digunakan terutama dari sisi perangkat kerasnya, dan mampu menjelaskan fungsi masing-masing perangkat yang terhubung dengan komputer.
2. TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran yang harus dicapai pada unit kegiatan ini adalah:
a. Peserta kegiatan mampu mengenal bagian-bagian komputer secara garis besar.
b. Peserta kegiatan mampu menjelaskan fungsi masing-masing bagian komputer.
c. Peserta kegiatan mampu mengenal perangkat-perangkat yang dapat dipasangkan pada komputer.
d. Peserta kegiatan mampu menjelaskan fungsi masing-masing perangkat yang terpasang pada komputer.
3. FASILITAS YANG DIPERLUKAN
a. Komputer (berbentuk desktop atau laptop) dengan sistem operasi Windows XP (atau yang lebih baru) lengkap dengan perangkat periferal, paling kurang terdiri atas: mouse, keyboard, printer.
b. Bahan Belajar Mandiri (BBM) TIK Unit A0: Mengenal Komputer
c. Buku Kerja Guru
4. MATERI BELAJAR
A. Mengenal Komputer
Komputer adalah perangkat elektronik serbaguna yang dapat diprogram untuk berbagai keperluan. Saat ini, hampir tidak ada satupun kantor yang tidak memiliki komputer. Komputer digunakan untuk menulis surat, membuat laporan, membuat rencana anggaran, dan sebagainya. Bahkan, beberapa kantor menggunakannya untuk mengirim dan menerima faksimili, mengirim dan menerima email surat elektronik, dan menggunakannya sebagai sarana pengambilan dan penyajian informasi. Kantor lainnya mungkin menggunakan komputer sebagai sarana pemantau dan pengendali proses produksi.
Berdasarkan bentuk dan ukurannya, saat ini dikenal:
a. Komputer desktop, yakni komputer yang dirancang untuk diletakkan di atas meja. Pada komputer jenis ini, keyboard, layar monitor, dan boks prosesor (CPU, central processing unit) merupakan bagian-bagian yang terpisah;
b. Komputer laptop, yakni komputer yang bentuknya jauh lebih kecil dari komputer desktop yang bagian-bagiannya (keyboard, monitor, boks CPU) menyatu sehingga menjadi lebih ringkas. Komputer jenis ini biasanya lebih mahal harganya karena menggunakan layar monitor jenis LCD (liquid crystal display). Ukuran komputer laptop juga ada berbagai macam, misalnya notebook (yang ukurannya setara dengan kertas A4) atau subnotebook (yang lebih kecil daripada komputer notebook).
Dalam sistem komputer, sering disebut istilah-istilah perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan brainware. Hardware atau perangkat keras adalah perangkat komputer yang secara fisik dapat dilihat atau diraba. Prosesor, memori, monitor, CD (compact disk) drive, dan sebagainya, adalah perangkat keras. Perangkat lunak atau software adalah perangkat komputer yang keberadaannya dapat ditunjukkan oleh sistem komputer tetapi secara fisik tidak kasat mata. Sistem operasi, program aplikasi, dan data, adalah perangkat lunak. Sistem operasi adalah program komputer yang mengatur komunikasi serta lalu lintas data di dalam sistem komputer dan dengan perangkat lain yang terpasang pada sistem komputer. Program aplikasi adalah program komputer yang dirancang untuk menjalankan tugas tertentu (misalnya mengatur pengetikan dokumen, mengolah gambar, dan sebagainya). Contoh program aplikasi antara lain: Microsoft Word, Microsoft Excel , Microsoft PowerPoint, Norton Antivirus, dan sebagainya. Brainware adalah sebutan untuk manusia yang berperan sebagai pemrogram ataupun pengguna komputer.
B. Bagian-bagian Komputer
Pada makalah ini, fokus pembahasan ditujukan pada komputer desktop, yakni jenis kompuer yang paling banyak digunakan di kantor-kantor maupun rumah tangga. Komputer desktop biasanya terdiri dari bagian-bagian pokok sebagai berikut:
a. Unit Sistem (System Unit) atau Boks CPU, ya
SELAMAT DATANG
Cari Blog Ini
Minggu, 17 Oktober 2010
BAHAN BELAJAR MANDIRI
Kamis, 14 Oktober 2010
CASE STUDY: EVALUASI DIRI SEORANG GURU
1. Pendahuluan
Apakah saya sudah profesional sebagai seorang guru? Sebuah pertanyaan yang mudah dilontarkan, tetapi tidak terlalu mudah untuk dijawab. Dilihat dari kacamata orang awam, menjadi guru tidaklah terlalu sulit. Memiliki sedikit pengetahuan dan keberanian berdiri di depan siswa di kelas, maka jadilah seorang guru. Hal demikian diyakini dan diasumsikan oleh sebagian orang. Selain itu, banyak juga yang meyakini bahwa untuk menjadi guru, seseorang harus sudah menempuh pendidikan keguruan dan memiliki sertifikat untuk menjadi guru. Namun, barang-kali hanya sedikit orang yang bersedia menyisakan sedikit pikirannya untuk berpikir bahwa menjadi guru tidaklah segampang yang pernah dibayangkan orang. Bahkan, para guru sendiri, dalam jumlah yang sedikit, mungkin juga pernah berpikir bahwa tugas guru adalah berdiri di kelas dan menyampaikan sejumlah pengetahuan kepada siswa dari pukul sekian sampai pukul sekian. Ini adalah rutinitas seorang guru. Mereka menyebut pula, “Saya adalah guru senior yang sudah cukup berpengalaman”. Ini memang tak terbantahkan jika kesenioran hanya dipandang dari lamanya masa tugas sebagai guru dan pengalamannya berdiri di depan kelas. Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan guru karena bagaimanapun manusia-manusia berkualitas yang pernah kita kenal tentunya tidak terlepas dari bimbingan dan didikan seorang guru.
Penulis yang juga seorang guru, dengan tulisan ini bermaksud berbagi sedikit pengalaman untuk menambah wawasan kita tentang guru dalam konteks pembelajaran. Marilah kita menyimak sebuah cerita berikut yang dituturkan oleh seorang mahasiswa calon guru.
Ketika itu saya kelas I SMP. Guru saya, pengasuh mata pelajaran X masuk kelas, bertanya jawab sebentar dan kemudian meminta ketua kelas kami menulis materi pelajaran di papan tulis untuk kami. Kemudian guru tersebut meninggalkan ruang kelas. Kami materi pelajaran sebagaimana yang ditulis oleh ketua kelas di papan tulis. Ketika waktu untuk pelajaran X tersisa 10 menit lagi, guru kembali ke kelas sambil berujar, “Anak-anak pelajaran kita hari ini kita akhiri sampai di sini, pelajari baik-baik materi yang baru kalian catat. Materi ini adalah materi penting. Kemudian beliau mengucapkan salam dan bergegas meninggalkan ruang kelas untuk mengajar di kelas yang lain. Selama satu semester, saya masih ingat bahwa guru mata pelajaran X hanya beberapa kali menjelaskan materi pelajaran kepada kami. Selebihnya, kami hanya mencatat materi yang dituliskan oleh ketua kelas di papan tulis. Namun, tidak pernah sedikit pun terbersit dalam pikiran kami untuk protes terhadap model pembelajaran yang demi-kian. Kala itu, saya, mungkin juga teman-teman saya, berpikir bahwa cara seperti itu adalah salah satu cara mengajar. “Oh begitu mudah menjadi guru” begitu saya pernah berpikir.
Hari ini, ketika saya menyimak pembacaan sebuah pengalaman pembelajaran (narasi case study) yang ditulis oleh seorang guru, pengetahuan saya bertambah. Saya menyadari bahwa adalah suatu kekeliruan jika seorang guru hanya bisa meminta ketua kelas menulis materi pelajaran di papan tulis atau mendiktekan materi pelajaran kepada siswa hingga jam pelajaran berakhir. Kiranya, untuk menjadi seorang guru dibutuhkan kompetensi-kompetensi tertentu seperti kompetensi akademik, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Saya menanamkan sebuah tekad di dalam hati, andai nanti saya menjadi guru, saya tidak akan mengulangi kekeliruan seperti mendiktekan materi pelajaran, menulis materi di papan tulis tanpa penjelasan apa-apa, mengabaikan pertanyaan siswa, kurang menghargai jawaban siswa, dan hal-hal lainnya yang merupakan kekeliruan dalam sebuah pembelajaran. Saya akan menunjukkan bahwa menjadi guru tidaklah segampang yang pernah dibayangkan orang. Demikian kisah seorang mahasiswa calon guru.
Apa makna yang dapat kita petik dari kisah tersebut? Kisah tersebut menunjukkan kepada kita tentang pentingnya seorang guru menulis pengalaman pembelajarannya. Peng-alaman tersebut akan berguna bagi guru itu sendiri sebagai evaluasi diri (self evaluation) dan berguna b
CASE STUDY: EVALUASI DIRI SEORANG GURU
1. Pendahuluan
Apakah saya sudah profesional sebagai seorang guru? Sebuah pertanyaan yang mudah dilontarkan, tetapi tidak terlalu mudah untuk dijawab. Dilihat dari kacamata orang awam, menjadi guru tidaklah terlalu sulit. Memiliki sedikit pengetahuan dan keberanian berdiri di depan siswa di kelas, maka jadilah seorang guru. Hal demikian diyakini dan diasumsikan oleh sebagian orang. Selain itu, banyak juga yang meyakini bahwa untuk menjadi guru, seseorang harus sudah menempuh pendidikan keguruan dan memiliki sertifikat untuk menjadi guru. Namun, barang-kali hanya sedikit orang yang bersedia menyisakan sedikit pikirannya untuk berpikir bahwa menjadi guru tidaklah segampang yang pernah dibayangkan orang. Bahkan, para guru sendiri, dalam jumlah yang sedikit, mungkin juga pernah berpikir bahwa tugas guru adalah berdiri di kelas dan menyampaikan sejumlah pengetahuan kepada siswa dari pukul sekian sampai pukul sekian. Ini adalah rutinitas seorang guru. Mereka menyebut pula, “Saya adalah guru senior yang sudah cukup berpengalaman”. Ini memang tak terbantahkan jika kesenioran hanya dipandang dari lamanya masa tugas sebagai guru dan pengalamannya berdiri di depan kelas. Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan guru karena bagaimanapun manusia-manusia berkualitas yang pernah kita kenal tentunya tidak terlepas dari bimbingan dan didikan seorang guru.
Penulis yang juga seorang guru, dengan tulisan ini bermaksud berbagi sedikit pengalaman untuk menambah wawasan kita tentang guru dalam konteks pembelajaran. Marilah kita menyimak sebuah cerita berikut yang dituturkan oleh seorang mahasiswa calon guru.
Ketika itu saya kelas I SMP. Guru saya, pengasuh mata pelajaran X masuk kelas, bertanya jawab sebentar dan kemudian meminta ketua kelas kami menulis materi pelajaran di papan tulis untuk kami. Kemudian guru tersebut meninggalkan ruang kelas. Kami materi pelajaran sebagaimana yang ditulis oleh ketua kelas di papan tulis. Ketika waktu untuk pelajaran X tersisa 10 menit lagi, guru kembali ke kelas sambil berujar, “Anak-anak pelajaran kita hari ini kita akhiri sampai di sini, pelajari baik-baik materi yang baru kalian catat. Materi ini adalah materi penting. Kemudian beliau mengucapkan salam dan bergegas meninggalkan ruang kelas untuk mengajar di kelas yang lain. Selama satu semester, saya masih ingat bahwa guru mata pelajaran X hanya beberapa kali menjelaskan materi pelajaran kepada kami. Selebihnya, kami hanya mencatat materi yang dituliskan oleh ketua kelas di papan tulis. Namun, tidak pernah sedikit pun terbersit dalam pikiran kami untuk protes terhadap model pembelajaran yang demi-kian. Kala itu, saya, mungkin juga teman-teman saya, berpikir bahwa cara seperti itu adalah salah satu cara mengajar. “Oh begitu mudah menjadi guru” begitu saya pernah berpikir.
Hari ini, ketika saya menyimak pembacaan sebuah pengalaman pembelajaran (narasi case study) yang ditulis oleh seorang guru, pengetahuan saya bertambah. Saya menyadari bahwa adalah suatu kekeliruan jika seorang guru hanya bisa meminta ketua kelas menulis materi pelajaran di papan tulis atau mendiktekan materi pelajaran kepada siswa hingga jam pelajaran berakhir. Kiranya, untuk menjadi seorang guru dibutuhkan kompetensi-kompetensi tertentu seperti kompetensi akademik, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Saya menanamkan sebuah tekad di dalam hati, andai nanti saya menjadi guru, saya tidak akan mengulangi kekeliruan seperti mendiktekan materi pelajaran, menulis materi di papan tulis tanpa penjelasan apa-apa, mengabaikan pertanyaan siswa, kurang menghargai jawaban siswa, dan hal-hal lainnya yang merupakan kekeliruan dalam sebuah pembelajaran. Saya akan menunjukkan bahwa menjadi guru tidaklah segampang yang pernah dibayangkan orang. Demikian kisah seorang mahasiswa calon guru.
Apa makna yang dapat kita petik dari kisah tersebut? Kisah tersebut menunjukkan kepada kita tentang pentingnya seorang guru menulis pengalaman pembelajarannya. Peng-alaman tersebut akan berguna bagi guru itu sendiri sebagai evaluasi diri (self evaluation) dan berguna b
Kamis, 07 Oktober 2010
kata bijak
besar dengan usaha lebih baik dari besar dengan nama
perihal: Duta Business School (lihat di Google Wikipinggir)